Jumat, 27 Januari 2012

METODE FILSAFAT DAN METODE PENELITIAN FILSAFAT


METODE FILSAFAT DAN METODE PENELITIAN FILSAFAT
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salahsatu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia












Disusun oleh :
HASAN NURDIN
NIM : 1211101003


JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS UHSULUDIN
UIN SUNAN GUNUNG JDATI BANDUNG



Pengantar
Segala puji bagi Allah Swt. Atas segala limpahan karunia yang tidak terhingga. Shalawat dan salam semoga selalau tercurahkan kepada Nabi akhir zaman, Muhamad Saw., yang memiliki akhlak yang mulia sebagai surituladan.
Alahamdulilah saya sangat bersyukur sekali bisa menyelesaikan makalah saya dengan semaksimal mungkin namun saya pun menyadari bahwa makalah ini beleum sempurna, maka dari itu mudah-mudahan makalah ini bisa menghidupkan diskusi kita guna menambah pengetahuan kita dalam mengertiakan filsafat



Daftar isi
Pengantar .......................................................................................................................................2
Bab I
Pendahuluan ................................................................................................................................... 3
Bab II
Pembahasan .................................................................................................................................... 4
1.      Pengertian filsafat .............................................................................................................. 4
2.      Apa itu metode? ................................................................................................................. 5
3.      Metode dan Filsafat ............................................................................................................ 6
4.      Apa itu penelitian................................................................................................................ 6
5.      Metode penelitian ............................................................................................................... 7
6.      Metode penelitian filsafat .................................................................................................. 8
Bab III
Kesimpulan .................................................................................................................................... 9








BAB l
Pendahuluan
Untuk mempelajari sesuatu yang bersifat pengetahuan atau ilmu, maka diperlukan sebuah cara atau metode guna mempermudah dalam mempelajari sesuatu yang akan kita kajai, begitu pula ketika kita mempelajari filsafat, namun cara memperlajari filsafat menurut Prof.Dr.Ahmad Tafsiryang berjudul filsafat umum ia itu, ada tiga macam ; metode mempelajari Filsafat, metode sistematis, dan metode keritis, nah, oleh karna itu seseorang yang akan mempelajari filsafat, khususnya mahasiswa yang mempelajari filsafat, harus mengetahui metodenya, meskipun filosof terdahulu berfilsafat tidak mempelajari filsafat secara harafiah, namun secara tidak langsung, filosof terdahulu sudah berfilsafat dengan metodenya. Filsafat ia lah menemukan kebenaran yang sebenarnya, jika kebenaran sebenarnya disusun secara sistematis, secara tidak langsung itu adalah bagian dari metode. Pada dasarnya metode akan diperlukan oleh manusia yang mempelajari suatu ilmu. Demikian untuk mendapatkan pengetahuan, sama saja dengan para filosof terdahul, dengan metode indra berupa pengamatan fisik, kemudian dengan akal berupa berfikir sistematis, dan menghayati realitas pengetahuan yang dilakukan oleh hati.
Berfikir adalah suatu kerja akal untuk memndapatkan pengetahuan, dan pengetahuan akan selalau berkembang dari zaman ke zaman, sehingga perlu adanya penelitian sebagai kerja ilmiah maka diperlukan metode penelitian. Kehidupan manusia meliputi berbagai aspek, misalnya filsafat berhadapan dengan kekuasan maka lahirlah filsafat polotik, ketika filsafat dihadapkan dengan alam maka lahirlah filsafat alam, ketika filsafat dihadapkan dengan pendidikan maka lahirlah filsafat pendidikan, begitu pula ketika filsafat dihadapkan dengan ekspresi keindahan maka lahirlah filsafat seni, dan masih banyak yang lainnya, tetapi bagimana ketika fulsafat dihadapkan dengan Agama?, apa yang akan terjadi di masyarakat ketika filsafat dihadapkan dengan agama?, tentunya akan menjadi permasalahan bersar terhadap filsafat dengan agama dikalangan masyarakat umum, maka filsafat akan dipandang negatif, dikarnakan agama adalah sesuatu yang sacral yang tidak boleh di keritisi, sedangakan filsafat bersifat keritis terhadap sesuatu. Tidak sedikit orang agamawan Islam benci dengan ajaran filsafat, dikarnakan filsafat buatan orang kafir dan yang namanya kafir itu haram dan harus di perangi, sehingga meraka benci terhadap ajaran filsafat, seperti yang saya alami ketika saya baru lulus sekolah, saya ditanya oleh salah satu guru say, dia bertanya “san lulus sekolah mau kemana, mau kerja atau kuliah?” jawab saya “kuliah pak” Tanya balik “emang Hasan mau kuliah dimana?” jawab saya “ke UIN Bandung” Tanya balik “Hasan mau ngambil jurusan apa?” jawab saya “mau ngambil Jurusan Aqidah Filsafat” mendengar itu guru saya langsung mengeluarkan setetmentnya, dia berkata “kenapa kamu ngambil jurusan filsafat, saran bapak lebih baik kamu jangan ngambil jurusan filsafat”. Cerita di atas menggeambarkan bahwa mereka berfikir negatif terhadap filsafat, nah, disinilah peran metode di perlukan untuk mempelajari filsafat secara baik dan benar.


BAB II
Pembahasan

“kemajuan manusia diawali dengan kesadaran diri, dikarnakan mereka memahami sebuah pengertian”


1.      Pegertian filsafat
Sala satu pehlawan Indodensia yang pernah menjabat sebagai wakil presiden RI pertama, ia itu yang bernama M. Hatta, mngemukakan pengertian filsafat itu lebih baik tidak dibicarakan terlebih dahulu (Hatta; 1966 :1:3) nanti bila orang telaha banyak membca atau mempelajari filsafat, orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu menurut konotasinya. Tetapi untuk mengawali belajar filsafat alangkah baiknya, kita mengetahi sedikit tentang pengertian filsafat dari filosof terdahulu, begitu pula kita sebagai mahasiswa baru yang mempelajari filsafat, sedikitnya harus mengetahui pengatar kerarah filsafat dengan memahami pengertian filsafat dari orang lain.[1]
Secara filosofis, kesukaran memberikan definisi di filsafat di sebabkan oleh hal –hal berikut: setiap orang berhak memberikan definisi filsafat sesuai dengan pengetahuan sebatas yang diketahuinya, oleh karna itu perbedaan dalam memberikan definisi, menjadi hal yang waja, dan wajar sekali ketika M. Hatta mengemukakan pengertian filsafat seperti itu. Tetapi untuk mengawali belajar filsafat alangkah baiknya, kita mengetahi sedikit tentang pengertian filsafat dari filosof terdahulu atau orang lain, tetapi tidak untuk harus memutlakan fikiran orang lain kepada femikiran kita, melainkan harus menjadi bahan pertimbangan dalam fikiran kita.
Secara etimologis, filsafat berasal dari beberapa bahasa, ia itu bahasa inggris dan bahasa Yunani, dalam bahasa Inggris ,iaitu”philosophy” sedangkan dalam bahasa Yunani “philein” atau “philo” yang artinya al-hikmah. Akan tetapi, kata tersebut pada awalnya berasal dari kata Yunani. “philos” artinya cinta, sedangkan “sophio” artinya kebijaksanaan, oleh karena itu, para akhli filsafatI di sebut dengan filosof, yakni ornga yang mencintai kebijaksanaan atau kebenaran. Tetapi filosof bukan orang yang bijaksana atau berpegang teguh kebenaran, melainkan sedang belajar mencarai kebenaran atau kebijaksanaan.[2]
Filsafat adalah pencaraian kebenaran melalaui berfikir yang sistematis, artinya pembicangaan atas segala seseuatu dilakukuan secara teratur mengikuti sistem yang berlaku sehingga tahapan-tahapannmya mudah diikuti.Berfikir sistematis tentu tidak loncat-loncat, melainkan mengikuti aturan yang benar.
Untuk belajar filsafat ,maka kita harus mengetahui historis atau sejarah filsafat itu sendiri, dari mana kata filsafat ini di kemukaan secara umum, sehingga masyarakat tahu secara umum filsafaat ituseparti apa. Atas tradisi kuno bahwa “filsuf” (philosophos) untuk pertamakalinya dalam sejarah filsafat di pergunakan oleh Pythagoras (pada abad ke-6 SM) tetapi kesaksaian sejarah tentang kehidupan dan aktivitas Pythagoras demikian tercapur dengan legenda-legenda sehingga kebenaran tidak dapat dibedakan dari reka-rekaan saja. Demikian halnya juga dengan hikayat yang mengesahkan bahwa nama “Filsuf” ditemukan oleh ptyhagoras.[3] Yng pasti ialah bahwa dalam kalangan sokrates dan phalato abad (ke-5 SM) nama“filsafat dan filsuf sudah lajim dipakai. Dalam dialog pelato yang berjudul phaidrosmisalnya kita membaca : nama orang bijaksana, terlalau luhur untuk memenggil seorang manusia dan lebih cocok untuk seorang Dewa. Lebih baik ia dipanggil Philosophos, mencintai kebijkasanaan. Nama ini lebih pantas dengan makhluk insane. Perkataan plato tadi menunjukan suatu aspek penting dari istilah kata philosophia.
Ternyata yang menamakan filsafat itu filsafat adalah Pythagoras, kita dapat mengetahuinya dikarnakaan ada dokumen secara tertulis, sehingga kita dapat mengetahuinya dengan jelas, seperti teks yang di atas, menerangkan yang menamakan kata filsafat tersebut.
Sebelum lahirnya filsafat Islam, baik ditimur maupun di dunia Barat telah mendapatkan bermacam-macam alam fikiran, diantaranya yang terkenal ialah pikiran mesir kuno, pikiran Iran, fikiran cina dan fikiran Yunani  jadi fikiran –fikiran iran dan India sedikir banyak telah memberikan sumbangan pada memberntukan pada pembentukan filsafat Islam, tetapi yang tampak jelas hubungannya, bahkan menjadi sumber (bukan dumber utama) bagi filsafat Islam ialah filsafat Yunanai.[4]
Ternyata ajaran filsafat hamper semuanya menginduk kepada filsafat Yunanai, filsafat Yunanai menjadi bahan acuan untuk awal perkenalan atrau pembelajaran filasafat, bahkan untuk mengetahui asal-usul filsafat kita harus tahu dulu sejarah filsafat Yunani dari mualai Thales, Anaxmander, Pytagoras, Heraklitus, Pramindes, Sokrates, Demokritus, Plato, Aristitoles, dan Lain-lian[5].
Secara terminologi, filsafat mempunyai arti yang bervariasi. Juhaya S. Pradja (200:2) mengatakah bahwa arti yang sangat Formal dan filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang di jungjung tinggi, suatu sikap yang bernar adalah sikap yang keritis dan mencari. Sikap itu sikap toleran dan terbuka dalam melihat persolan dengan berbagai sudut pandangan dan tanpa perasangka. Berfilsafat tidak hanya berarti membaca dan mengetahi filsafat,.Seseorang membolehkan berargumentasi. Memakai teknis analisis, serta mengetahui sejumlah bahan pengetauhuan sehingga ia memikirakan dan mersakan secara filsafat. Filsafat mengantarkan semua yang mempelajarinya kedalam refleksi pemikiran yang medalam dan penuh dengan hikmah.
2.      Apa itu metode
Metode bersal dari kata Yunani Methodos, sumbangan kata depan meta (ialah : menuju, melalaui, mengikuti, sesudah), dan kata benda hodos (ialah : jalan, Perjalanan, cara, arah). Kata Methodos sendiri lalau berarti : penelitian, metode ilmiah, hipotesa ilmiah. Metode ialah: cara bertindak menurut system aturan tertentu. Maksud metode ialah : seupaya kegiatan praktis terlksana secarea rasional dan terarah, agar mencapai hasil optimal[6]
3.      Metode dan Filsafat
Apa hubungan metode dan filsafat, sangat  berhubungan sekali karena secara tidak langsung filsafat pun membutuhkan metode untuk mempermudah dalam berfilsafat, dan untuk mempelajari filsafat ada tiga macam, ia itu metode mempelajari filasafat, metode sistematis, dan metode keritis.
Menggunakan metode sistematis, berarti pelajar menghadapi karaya filsafat. Mislanya mula-mula pelajar menghadapi teori pengetahuan yang terdiri atas bebrapa cabang filsafat, setelah itu ia mempelajari teori hakikiat yang merupakan cabang lain. Kemudian ia mempelajari teori nilai atau filadafat tatkala membahas setiap cabang atau cabang itu, aliran-aliran akan terbahas. Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatian kita terpusat  pada isi filsafat, bukan pada tokoh atau pun perode
Adapun metode historis digunakan bila para pelajar mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarah, jadi sejarah pemikiran , ini dapat dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah, misalnya dimulai dari membicarakan filsafat Thales, membicarakan riwayat hidupnya, pokok ajarannya, lantas dalam teori pengetahuan, teori hakikat, maupun dalam teori nilaiu. Lantas setelah mengetahui thales dari mulai pemikiranya, dilanjutkan lagi misalnya Heraklitus, Pramendes, Sokrates, Demokritus, Plato, dan tokoh-tokoh lainnya.[7]
Metode kritis digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intendif.Pelajar haruslah sedikit-banyak telah memiliki pengetahuan filsafat, langkah pertama haruslah sedikit-sedikit telah memiliki pengetahuan filsafat, langkah pertama memahami isi ajaran, kemudian pelajar menagajukan keritiknya. Keritik itu dalam bentuk menantang, dapat juaga mengeritik mungkin dengan menggunakan pendapatnya sendiri atau pun menggunakan filsafat lain.Seperti itulah pandangan metode pembelajarn filsafat, menurut Prof. Ahmad Tasfsir.

4.      Apa itu penelitian ?
Penelitian adalah terjemaah dari kata Inggris research.Research itu sendiri berasal dari kata re, yang berarti “kembali” dan to search yang berarti “mencari”. Dengan demikian research atau riset adalah “mencarai kembali”
Menurut kamus Webster’s new international, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip suatu penyelidiakn yang amat cerdik untuk menetapkan seseuatu. Menurut seorang Ilmuan, hillay (1956) menyatakan bahwa penelitian tidalain adalah suatu metode setudi yang dilakukuan seseorang melalui, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap suatu metode untuk menemukan kebenaran, sehingga penelitian juaga merupakan metode berfikir secara kritis.
            Whitney mengutip beberapa definisi tentang penelitian yang diturunkan di bawah ini ;
1.      Penelitian adalah pencarai atas sesuatu (inquriry) secara sisitematis dengan penekanan bahwa pencarian iniu dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan (Parsons, 1946)
2.      Penelitian adalah seuatu pencaraian fakta menurut objektif yang jelas untuk menemukan hubungan antara fakta dan menghasilkan salil atau hokum. (John, 1949)
3.      Penelitian adalah transpormasi yang terkendalikan atau terarah dari situasi yang dikenal dalam kenyatan-kenyatan yang ada padanya dan hubungannya, seperti menghubungkan unsure dari situasi orsinil menjadi suatu keseluruahan yang bersatu padu. (Dewwy.1936)
4.      Penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thingking) (Woody, 1927)
Dari tanggapan serta defenisi-defenisi tentang penelitian, maka nyat bahwa penelitian adalah suatu penyelidikan yang terorganisir.Selain itu penelitian juga bertujuan untuk mengubah kesimpulan-kesimpulan yang telah diterima ataupun mengubah dalil-dalil dengan adanya aplikasi dari dalil-dalil tersebut.
Dari ditulah penelitian dapat diartikan sebagai pencarian pengetahuan dan pemberi arati yang hati-hati dan kritis untuk menemukan seseuatu yang baru

5.      Metode penelitian ?
Metode penelitian adalah cara ilmuah untuk mengumpulkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Cirri ilmiah : Rasional, Empiris dan Sistematis
Syarat data untuk penelitian :
a.       Valid (drajat ketepatan)
b.      Reliabel (drajat konsistensi /keajegan)
c.       Objektif (Interpersolnal Agreement)
Data yang valid maka reliable dan Objektif, tetapi tidak sebaliknya.

Data valid diperoleh dengan cara:
a.       Menggunakan instrument penelitian yang valid.
b.      Menggunakan sumber data yang tepat dan cukup jumlahnya
c.       Menggunakan metode pengumpulan data yang tepat /benar.

Data realibel diperoleh dengan cara :
·         Menggunakan instrument penelitian yang realibel

Dan objektif diperoleh dengan cara :
·         Menggunakan sempel atau sumber yang benar (jumlahnya mendekati populusi).

Tujuan penelitian, secara umum :
1.      Penemuan
2.      Pembuktian
3.      Pengembangan

Kegunaan penelitian, secara umum :
1.      Memhami masalah
2.      Memecahkan masalah
3.      Mengantisipasi masalah

6.      Metode Penelitian Filsafat
metode penelitian filsafat adalah mencari cara berfikir filsafat dari mulai abad sebelum masehi sampai sekarang, dan salah satu sayrat kevalidan untuk memperkuat bahwa itu hasil pemikiran filosof terdahulu maka harus ada bukti teks tual, yaitu menemukan catatan atau dokumen dahulu untuk memperkuat bahwa pemikiran yang kita temukan itu benar-benar dari filosof terdahulu dikumpulkan secara sistematis, darimulai pemikiran abad sebelum Masehi sampai sekarang ini, maka ketika kita sudah mampu mengumpulkan pemikiran filsafat dan di susun secara sistematis, maka bisa dikatakan itu semua hasil metode penelitaian filsafat






Bab III
Kesimpulan

Jadi secara garis besar metode filsafat dan metode penelitian filsafat itu adalah bagian terpenting untuk mengawali kita mempelajarai fisafat, dan filsafat akan selalu berkaitan dengan Yunani dikarnakan filsafat Yunani mempunyai dokumen dan catatan yang sistematis, sehingga semua orang dapat membacanya secara mudah karna konon Yunani itu terbuka dalam segi keilmuan maka pada saat itu mereka dapat mempelajari filsafat secara mudah, dan filsafat akan selalau berkaitan dengan metode, karena metode akan membantu kita untuk mempelajari filsafat, jadi kita secara tidak langsung wajib untuk mengetahui metode filsafat guna mempermudah kita mempelajari dan memahami filsafat


Daptar pustak
Drs. Sumandi Suryabarata. MA,Ed.S. Metodologi Penelitian. Universitas Gadjah Mada
Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A. Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya
Dr. Anton Bakker, Metode, Metode Fisafat
Mark B. Woodhuse, Berfilsafat sebuah langkah awal
Prof. Drs. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, pengantar Filsafat”akal dan hati sejak thales sampai capra


[1] Prof. Drs. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, pengantar Filsafat”akal dan hati sejak thales sampai capra
[2] Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A. Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, hal 7
[3] Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A. Filsafat Islam, Filosof dan Filsafatnya, hal 8
[4] Dr. Anton Bakker, Metode, Metode Fisafat hal 9
[5] Mark B. Woodhuse, Berfilsafat sebuah langkah awal

[6] Dr. Anton Bakker, Metode, Metode Fisafat hal 3
[7] Drs. Sumandi Suryabarata. MA,Ed.S. Metodologi Penelitian. Universitas Gadjah Mada


0 komentar:

Poskan Komentar