Jumat, 27 Januari 2012

SEJARAH PERTUMBUHAN ILMU TAUHID


SEJARAH PERTUMBUHAN ILMU TAUHID

Pendahuluan
Pengetahuan tentang Tuhan dan kesetiaan terhadap aturan-aturan-Nya ( Tauhid ) merupakan dasar keislaman[2]. Hal ini sangat penting dan mengundang pembahasan yang lengkap dan luas, untuk mempelajarinya. Mempelajari Ilmu Tauhid merupakan cara untuk mempertebal keyakinan kita kepada Allah SWT. Karena didalamnya kita dapat mengetahui tentang ke-esaan Allah dan segala ketetapan yang berkaitan tentang-Nya. Misalnya ketetapan Allah tentang qadha dan qadar, sifat-sifatNya, atau yang berkaitan dengan rukun iman dan aliran-aliran yang ada dalam islam. Selain itu, dengan mempelajari ilmu Tauhid kita bisa mengetahui bagaimana kondisi ilmu Tauhid dari zaman ke zaman. Atau beberapa hal yang mempengaruhi ilmu Tauhid menjadi ilmu kalam dalam pekembangannya.
Untuk mengetahui apa itu ilmu tauhid secara etimologi ( bahasa ) dan secara historis, kami pertama-tama akan mendefinisikan ( menta’rif ) terlebih dahulu secara bahasa.
1.      Definisi Ilmu Tauhid
Perkataan Tauhid berasal dari Bahasa Arab, masdar dari kata  Wahhada-Yuwahhidu. Secara Etimologis, tauhid berarti Keesaan. Maksudnya, itikad atau keyakinan bahwa Allah SWT adalah Esa, Tunggal; Satu. Pengertian ini sejalan dengan pengertian Tauhid yang digunakan dalam Bahasa Indonesia, yakni “ Keesaan Allah “ ; Mentauhid- kan berarti mengakui keesaan Allah ; Mengesakan Allah. Husain Affandi al-Jasr mengatakan : “ Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas hal-hal yang menetapkan Akidah agama dengan dalil-dalil yang meyakinkan “[3].
Para Ulama’ sependapat, mempelajari Tauhid hukumnya wajib bagi seorang Muslim, kewajiban itu bukan saja didasarkan pada alasan rasio bahwa Aqidah merupakan dasar pertama dan utama dalam islam, tetapi juga didasarkan pada dalil-dalil naqli, Al-Qur’an dan Hadist[4]. lmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang sifat – sifat allah swt dan sifat – sifat para utusanya yang terdiri dari sifat yang wajib, sifat jaiz dan sifat yang mustahil[5]. selain dari itu juga menerangkan segala yang memungkinkandan dapat diterima oleh akal, untuk menjadikan bukti dan dalil, dengan dibantu oleh masalah sam’iyat agar dapat mempercayai dalil itu dengan yakin tanpa keraguan di hati.
Ilmu Tauhid disebut juga ilmu ushuluddin (dasar – dasar atau pokok – pokok agama) atau ilmu kalam ( berasal dari masalah kalam/ucapan allah) sebab ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas dan membicarakan ke-esa-an allah swt. selain itu, ilmu tauhid juga membicarakan pokok – pokok agama. oleh karena itu ilmu tersebut disebut ilmu ushuluddin. disebut ilmu kalam karena karena ilmu tersebut juga membicarakan tentang kalamullah yang sering diperdebatakan oleh banyak orang dalam hal kalamullah, apakah kalamullah itu termasuk yang Qadim atau yang Hadits.
Wilayah pembatasan tauhid adalah Dzat-dzat allah dan sifat rasulnya yang mulia, sehingga ilmu ini merupakan ilmu yang mulia dan menjadi kewajiban kita mempelajari ilmu tauhid. adapun masalah yang umum, yaitu seperti allah bersifat wujud, qidam, dan sifat-sifat lain yang menunjukan kesempurnaanya, dan mustahil bagi allah adam dan huduts serta sifat – sifat lain lawan dari sifat – sifat yang wajib bagi allah[6].
2.      Macam-macam Ilmu Tauhid
a. Tauhid Rububiyah
Yaitu pengakuan bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan dan Maha Pencipta. Orang-orang kafir pun mengakui macam tauhid ini. Tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam. Allah berfirman,
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", Maka Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah). (Az-Zukhruf: 87)
b. Tauhid Uluhiyah
Dalam banyak suratnya, Al-Qur'anul Karim sering memberikan anjuran soal tauhid uluhiyah ini. Di antaranya, agar setiap muslim berdo'a dan meminta hajat khusus kepada Allah semata.
Dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah berfirman;
Dan hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. (Al-Fatihah: 5)
Maksudnya, khusus kepadaMu (ya Allah) kami beribadah, hanya kepadaMu semata kami berdo'a dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan kepada selainMu.
c. Tauhid Asma' Wa Shifat
Yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam Al-Qur'anul Karim dan hadits shahih tentang sifat-sifat Allah yang berasal dari penyifatan Allah atas DzatNya atau penyifatan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam.
















PERTUMBUHAN ILMU TAUHID DAN ERKEMBANGANNYA
A.    Pembahasan
1.      Lahirnya Ilmu Tauhid
Berikut ini ringkasan dari uraian Ahmad Amin dalam bukunya Dhuha Al-Islam mengenai kedua factor tersebut[7];
·         Faktor Intern
Yang dimaksud dengan faktor intern adalah factor yang berasal dari islam sendiri. Faktor-faktor tersebut adalah :
a.       al-Qur’an disamping berisi masalah ketauhidan, kenabian. Dan lain- lain berisi pula semacam apologi dan polemic, terutama terhadap agama-agama yang ada pada waktu itu, misalnya :
Surat al-Maidah ayat 116 berisi penolakan terhadap ketuhanan Nabi Isa. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:
"Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". (Al- Maidah 116).

b.      Pada periode pertama masalah keimanan tidak dipersoalkan secara mendalam. Setelah Nabi wafat dan Ummat islam bersentuhan dengan kebudayaan dan peradaban asing, mereka mulai mengenal Filsafat, merekapun menfilsafati al-Qur’an, terutama ayat-ayat yang secara lahir nampak satu sama lain tidak sejalan, bahkan kelihatan bertentangan. Hal tersebut perlu dipecahkan sebaik mungkin, dan untuk memecahkannya perlu sutu ilmu tersendiri.
c.       Masalah politik, terutama yang berkenaan dengan khalifah, menjadi factor pula dalam kelahiran ilmu tauhid.
·         Faktor Ekstern
Yang dimaksud dengan faktor ekstern ialah factor yang datang dari luar islam. Faktor tersebut antara lain ialah pola piker ajaran agama lain yang dibawa oleh orang tertentu, termasuk Umat Islam yang dahulunya menganut agama lain ke dalam ajaran islam[8].
2.      Tauhid dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist
Pada dasarnya inti pokok ajaran al-Qur’an adalah Tauhid. Nabi Muhaammad SAW diutus Allah kepada Umat manusia adalah juga untuk mengajarkan ketauhidan tersebut, Karena itu ajaran Tauhid yang terdapat di dalam al-Qur’an dipertegas dan diperjelas oleh Rasulullah SWA sebagaimana tercermin dalam Hadistnya. Penegasan Allah SWT dalam al-Qur’an yang mengatakan bahwa Allah SWT itu Maha Esa, antara lain[9] :
1.      Surat Al-ikhlas ayat 1 sampai dengan 4
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
2.      Surat Al-Zumar ayat 4
Kalau Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan-Nya. Maha suci Allah. Dialah Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.
3.    Surat Al-Baqarah ayat 163
Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4.       Surat An-Nisa’ ayat 171
Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu[383], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari Ucapan itu). lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allajh dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara.
5.      Surat Al-Maidah ayat 73
Sesungguhnya kafirlah orang - orang yang mengatakan:
"Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", Padahal sekali- kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.
6.      Surat Al-Anbiya’ ayat 22
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah,tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Keesaan Allah SWT tidak hanya keesaan pada zat-Nya, tapi juga esa pada sifat dan af’al ( perbuatan )-Nya. Yang dimaksud Esa pada zat adalah Zat Allah itu tidak tersusun dari beberapa juzu’ ( bagian ). Esa pada sifat berarti sifat Allah tidak sama dengan sifatsifat yang lain dan tak seorangpun yang mempunyai sifat sebagaimana sifat Allah SWT.
3.      Perkembangan Tauhid Dari Masa ke Masa
a.       Masa Rashulullah Saw.
Masa Rashulullah Saw meruakan periode pembinaan aqidah dan peraturan-peraturan dengan prinsip kesatuan umat dan kedaulata Islam. Segala masalah yang kabur dekembalikan kepada Rashulullah Saw untuk dipertanyakan, sehingga beliau berhasil menghilangkan perpecahan diantara umatnya. Dengan demikian Tauhid pada masa Rashulullah tidak sampai kepada perdebatan dan polemic yang berkepanjangan, karena Rashulullah sendiri yang menjadi penengahnya.
b.      Masa Khulafaurrasyidin
Pada zaman khalifah Abu Bakar ( 632-634 M ) dan Umar bin Khattab ( 634-644 ) problema keagamaan juga masih relative kecil termasuk masalah aqidah. Tapi setelah Umar wafat dan Ustman bin Affan naik tahta ( 644-656 ) fitnah pun timbul. Abdullah bin Saba, seorang Yahudi asal Yaman yang mengaku Muslim, salah seorang penyulut pergolakan. Meskipun itu ditiupkan, Abdullah bin Saba’ pada masa pemerintahan Ustman namun kemelut yang serius justru terjadi di kalangan Umat Islam setelah Ustman mati terbunuh ( 656 ). Perselisihan di kalangan Umat islam terus berlanjut di zaman pemerintahan Ali bin Abi Thalib ( 656-661 ) dengan terjadinya perang saudara, pertama, perang Ali dengan Zubair, Thalhah dan Aisyah yang dikenal dengan perang jamal, kedua, perang antara Ali dan Muawiyah yang dikenal dengan perang Shiffin. Pertempuran dengan Zubair dan kawan-kawan dimenangkan oleh Ali, sedangkan dengan Muawiyah berakhir dengan tahkim ( Arbritrase ). Hal ini berpengaruh pada perkembangan tauhid, terutama lahir dan tumbuhnya aliran-aliran
c.       Masa Bani Umayah ( 661-750 M )
Dalam masa ini kedaulatan Islam bertambah kuat sehingga kaum muslimin tidak perlu lagi berusaha untuk mempertahankan Islam seperti masa sebelumnya. Kesempatan ini digunakan kaum muslimin untuk mengembangkan pengetahuan dan pengertian tentang ajaran Islam. Lebih lagi dengan berduyun-duyun pemeluk agama lain memeluk Islam, yang jiwanya belum bisa sepenuhnya meninggalkan unsur agamanya, telah menyusupkan beberapa ajarannya. Masa inilah mulai timbul keinginan bebas berfikir dan berbicara yang selama ini didiamkan oleh golongan Salaf.
Masalah aqidah menjadi perdebatan yang hangat di kalangan umat islam. Di zaman inilah lahir berbagai aliran teologi seperti Murji’ah, Qadariah, Jabariah dan Mu’tazilah
Penghujung abad pertama Hijriah muncul pula kaum Khawarij, suatu kelompok yang keluar dari barisan sahabat Ali bin Abi thalib, dia (red; Ali bin Abi Thalib) dipandang sudah kafir, karena dia mau menerima hukum manusia dan mengabaikan hukum Tuhan. Walaupun pada mulanya mereka adalah pengikut Ali bin Abi Thalib, akhirnya memisahkan diri karena alasan politik. Sedangkan kelompok yang tetap setia kepada Ali disebut dengan kelompok Syi’ah.
d.      Masa Bani Abbasiyah ( 750-1258 M ).
Pada zaman Bani Abbas, Filsafat Yunani danSains banyak dipelajari Umat Islam. Masalah Tauhid mendapat tantangan cukup berat. Kaum Muslimin tidak bisa mematahkan argumentasi filosofis orang lain tanpa mereka menggunakan senjata filsafat dan rasional pula. Untuk itu bangkitlah Mu’tazilah mempertahankan ketauhidan dengan argumentasi-argumentasi filosofis tersebut. Namun sikap Mu’tazilah yang terlalu mengagungkan akal dan melahirkan berbagai pendapat controversial menyebabkan kaum tradisional tidak menyukainya. Akhirnya lahir aliran Ahlussunnah Waljama’ah dengan Tokoh besarnya Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi.



4.      Pertumbuhan dan Perkembangannya
a.      Aliran-aliran dalam Ilmu Tauhid
Memang, fakta sejarah menunjukkan, persoalan pertama yang muncul di kalangan umat islam yang menyebabkan kaum muslimin terpecahj ke dalam beberapa firqah ( kelompok/golongan ) adalah persoalan politik. Dari masalah ini kemudian lahir berbagai kelompok dan aliran teologi dengan pandangan dan pendapat yang berbeda.
Berikut aliran-aliran atau golongan dalam perkembangan dan pertumbuhan ilmu Tauhid[10];
1.      Khawarij
Seperti yang telah dijelaskan di atas, khawarij pada awalnya adalah salah satu kelompok atau barisan dari pendukung Ali. Namun karena ada kekecewaan  dari kelompok khawarij atas keputusan Ali yang menerima tawaran musyawarah ketika perang jamal terjadi dengan Muawiyah. Kelompok yang tidak sepakat menerima keputusan itu adalah kkhawarij, dan khawarij menuding bahwa Ali telah kafir, karena beliau mau menerima hasil keputusan muyawarah ( Tahkim/arbitrase ), dan mengabaikan hukum Tuhan. Secara umum ajaran-ajaran pokok khawarij adalah :
1.      Orang islam yang melakukan dosa besar adalah kafir.
2.      Orang-orang yang terlibat dalam perang jamal ( antara Aisyah, Thalhah dan Zubair dengan Ali bin Abi Thalib ) dan para pelaku tahkim termasuk yang menerima dan membenarkan dihukumkan kafir.
3.       Khalifah harus dipilih langsung oleh Rakyat

2.      Murji’ah
Satu hal yang sulit diketahui dengan pasti ialah siapa sebenarnya pendiri atau tokoh Ulama’ aliran ini. Menurut Syahrastani, Husain bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib adalah orang yang pertama yang menyebut irja[11]’. Akan tetapi, hal ini belum menunjukkan bahwa ia adalah pendiri Murji’ah. Hal-hal yang melatar belakangi kehadiran Murji’ah antara lain :
1.      Adanya perbedaan pendapat antara orang Syi’ah dan khawarij.
2.      Adanya pendapat yang menyalahkan Aisyah dan kawan-kawan yang menyebabkan terjadinya perang jamal.
3.      Adanya pendapat yang menyalahkan orang yang ingin merebut kekuasaan Ustman bin Affan .
Adapun ajaran-ajaran yang dikembangkan oleh murji’ah dalam perkembangan ilu tauhid dan tokohnya adalah;
a.       Iman hanya membenarkan di dalam hati.
b.      Orang islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumi kafir, selama ia engakui 2 kalimah syahadah.
c.       Hukum terhadap perbuatan manusia ditangguhkan hingga hari kiamat.
Sedangkan tokoh yang terkenal dalam sekte murji’ah adalah Hasan bin Bilal Al- Muzni, Abu Sallat al Samman dan Dirar bin Umar. Tokoh Murji’ah yang moderat adalah Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib[12].
3.      Qodariyah
Madzhab Qadariyah muncul sekitar tahun 70 H ( 689 M ). Ajaran- ajaran ini banyak persamaannya dengan Mu’tazilah. Tokoh Ulama’ Qadariyah adalah Ma’bad Al-Juhari dan Ghailan Al-Dimasqi. Pokok aliran Qadariyah antara lain adalah manusia mempunyai kemampuan untuk bertindak ( Qudrah ) dan memilih atau berkehendak
Kehadiran Qadariyah merupakan isyarat penentangan terhadap politik pemerintahan Bani Umayyah, aliran ini selalu mendapat tekanan dari pemerintah, namun paham Qadariyah tetap berkembang. Dalam perkembangannya, paham ini tertampung dalam madzhab mu’tazilah.
4.      Jabariyah
Madzhab ini muncul bersamaan dengan kehadiran Qadariyah. Paham Qadariyah pada mulanya dipelopori oleh Ja’d bin Dirham. Pokok-pokok paham Jabariyah Menurut Jabariyah, manusia tidak mempunyai kemampuan untuk mewujudkan perbuatannya dan tidak memiliki kemampuan untuk memilih.
Menurut paham ini manusia tidak hanya bagaikan wayang yang digerakkan oleh dalang tapi manusia tidak mempunyai bagian sama sekali dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
5.      Mu’tazilah
Mu’tazilah lahir pada abad ke 2 H dengan Tokoh utamanya Washil bin Atha’. Pokok-pokok ajaran Mu’tazilah. Ada 5 prinsip ajaran Mu’tazilah
yang dirumuskan oleh Tokoh besar aliran ini, Abu Huzail Al-Hallaf :
1.      Al-Tauhid (keesaan Tuhan )
2.      Al-Adl ( keadilan-keadilan )
3.      Al-Wa’du wal Wa’id ( janji dan ancaman )
4.      Al-Manzilah bain al- Manzilatain
5.    Amar Ma’ruf nahi Munkar.
Tokoh-tokoh Mu’tazilah, Washil bin Atha’, Abu Hudzail Al-Hallaf, Al-Nazzam, Al-Jubb’ai.
6.      Ahlussunah waljama’ah
Ahlussunnah berarti pengikut Sunnah Nabi Muhammad SAW, dan Jama’ah artinya Sahabat Nabi, jadi Ahlussunnah mengandung arti ”sekelompok atau golongan yang mengikuti ajaran atau sunnah Nabi dan Al-Quran”.
Madzhab Ahlussunah Waljama’ah dalam Ilmu Tauhid menggunakan dalil naqli  dan dalil aqli. Dalil naqli ialah dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rashulullah Saw. Sedangkan dalil aqli ialah dalil yang akal atau rasio manusia[13].


















B.     Kesimpulan
Para Ulama’ sependapat, mempelajari Tauhid hukumnya wajib bagi seorang Muslim, kewajiban itu bukan saja didasarkan pada alasan rasio bahwa Aqidah merupakan dasar pertama dan utama dalam islam, tetapi juga didasarkan pada dalil-dalil naqli, Al-Qur’an dan Hadist. lmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang sifat – sifat allah swt dan sifat – sifat para utusanya yang terdiri dari sifat yang wajib, sifat jaiz dan sifat yang mustahil. selain dari itu juga menerangkan segala yang memungkinkandan dapat diterima oleh akal, untuk menjadikan bukti dan dalil, dengan dibantu oleh masalah sam’iyat agar dapat mempercayai dalil itu dengan yakin tanpa keraguan di hati[14].






















C.    Daftar Pustaka
·         Drs. KH. A.N. Nuril Huda. Ahlussunnah Waljama’ah Menjawab Persoalan Tradisi. LDNU; Jakarta Pusat 2007
·         Syahrastani Sejarah dan Perkembangan Islam
·         Muhammad, Teungku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. 2001.
·         Hanafi, Teologi Islam Jakarta; Bintang Terang 1993
·         Al-Qur’anul Karim ( terjemahan depag )
·         Hammudah Abdalati Islam Suatu Kepastian (International Islamic Federation of Student Organizations)
·         Husain Affandi al-Jasr Risalah Ilmu Tauhid (CV QALAM Djogjakarta 2003)





[1] Mahasiswa Aqidah Filsafat Semester I ( satu ) UIN SGD BANDUNG
[2] Hammudah Abdalati Islam Suatu Kepastian (International Islamic Federation of Student Organizations)
[3] Husain Affandi al-Jasr Risalah Ilmu Tauhid (CV QALAM Djogjakarta 2003)
[4] Dr. Muhammad as-Shadiqi. Argumen Filosofis, Teologis, dan Ilmiah (QIRTAS, Jogjakarta 2003)
[5] Imam Asyari, Tizan Darori
[6] Imam Asyari
[7] Ahmad Amin Dhuda Al-Islam
[8] Hanafi, Teologi Islam Jakarta; Bintang Terang 1993
[9] Al-Qur’anul Karim
[10] ttp://ilmutauhid.wordpress.com/2009/04/12/sejarah
[11] Syahrastani Sejarah dan Perkembangan Islam…
[12] Muhammad, Teungku Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. 2001.

[13] Drs. KH. A.N. Nuril Huda. Ahlussunnah Waljama’ah Menjawab Persoalan Tradisi. LDNU; Jakarta Pusat 2007
[14] Halaman 1-2 lembar makalah

0 komentar:

Poskan Komentar